Rakor DLH dan P3S Sektor Sleman Barat Mantapkan Sosialisasi Tingkat Kapanewon

  • Apr 28, 2026
  • KIM Margo Raras

SEYEGAN - Upaya memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat terus digencarkan. Bertempat di Rumah Dukuh Sutan, Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Minggir, Senin (27/4/2026), digelar Rapat Koordinasi (Rakor) antara Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman dengan Petugas Pendamping Pengelolaan Sampah (P3S) sektor Sleman Barat.

Rakor ini melibatkan 20 peserta yang terdiri dari P3S kapanewon, kawasan, hingga kalurahan di wilayah Seyegan, Minggir, Moyudan, dan Godean. Kegiatan diawali dengan kunjungan lapangan ke TPST Sendangsari untuk melihat langsung kondisi pengelolaan sampah di lapangan.

Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Tim Kerja Pengelolaan Persampahan DLH Sleman, Fitasari Ayu Wardani, ST, MPA, didampingi Sutarno selaku Koordinator Pendamping Kapanewon dan Amita Rusdianingrum, S.Si sebagai Koordinator Pendamping Kalurahan Sleman Barat.

Dalam paparannya, Fitasari menegaskan bahwa keberhasilan program pengelolaan sampah sangat ditentukan oleh perubahan perilaku masyarakat.
“Pemilahan sampah di sumbernya menjadi kunci utama. Tanpa itu, target Sleman Tuntas Sampah 2029 akan sulit tercapai,” ujarnya.

Ia menjelaskan, penguatan peran P3S difokuskan pada tiga tujuan utama, yakni pembentukan 1.212 Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM) dengan konsep satu padukuhan satu KPSM, pengolahan sampah organik di tingkat rumah tangga, serta pemanfaatan sistem SIOSESTU sebagai platform monitoring dan pelaporan.
“KPSM ini bisa berbentuk bank sampah, sedekah sampah, atau TPS3R, yang penting aktif dan terdaftar,” tambahnya.

Lebih lanjut, Fitasari menekankan pentingnya peran pendamping dalam memastikan kelembagaan KPSM berjalan optimal.
“Pendamping harus memastikan KPSM terbentuk, aktif, memiliki SK, dan sudah terdaftar dalam SIOSESTU,” jelasnya.

Aspek edukasi kepada masyarakat juga menjadi perhatian utama. Materi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) diarahkan pada penguatan kelembagaan serta perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah rumah tangga.
“Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat mau memilah sampah dan mengolah sampah organik dari rumah masing-masing,” tegas Fitasari.

Hasil kunjungan lapangan di TPST Sendangsari menunjukkan bahwa masih banyak sampah yang dikirim dalam kondisi tercampur antara organik dan anorganik. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan bau tidak sedap, tetapi juga menyulitkan proses pemilahan lanjutan.

Dalam rakor tersebut juga ditekankan bahwa kegiatan sosialisasi harus melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari tingkat kapanewon, kalurahan, padukuhan, hingga forum lingkungan. DLH bersama P3S kapanewon akan menjadi narasumber utama dalam pelaksanaan sosialisasi tersebut.

Fitasari juga menggarisbawahi sejumlah materi penting yang wajib disampaikan dalam sosialisasi, seperti kinerja pengelolaan sampah, komposisi sampah, hingga permasalahan rendahnya partisipasi masyarakat.
“Akar masalah kita jelas, masih kurangnya kesadaran warga untuk memilah dan mengolah sampah, serta minimnya pemahaman bahaya membakar sampah plastik,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pelibatan generasi muda menjadi strategi penting untuk menjaga keberlanjutan program.
“Dukungan wilayah, terutama dalam melibatkan pemuda, sangat dibutuhkan agar gerakan ini bisa berkelanjutan,” katanya.

Di akhir kegiatan, DLH menegaskan komitmennya untuk terus melakukan monitoring dan evaluasi selama proses pendampingan berlangsung.
“Kami tidak hanya mendorong, tetapi juga memastikan melalui monitoring dan evaluasi agar program ini berjalan sesuai target,” pungkas Fitasari. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)